Hidayatullah.or.id – Hidup berjamaah dan
menjaga silaturahim adalah sesuatu yang mahal lagi langka didapati dalam
kehidupan saat ini. Tak sedikit orang berdalih tidak sempat silaturahim karena
kesibukan dan urusan yang tidak pernah habis.
Demikianlah benang merah
yang juga lontaran keprihatinan meneropong masalah keummatan yang menguak dalam
acara Silaturahim Murabbi di kampus Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan,
beberapa waktu lalu.
Diharapkan, dengan
kegiatan Silaturahim Murabbi yang diikuti oleh para sesepuh Hidayatullah yang
berdomisili di kampus Gunung Tembak bisa menjadi benteng yang menjaga dan
mengawal perjalanan lembaga Hidayatullah.
Dalam kegiatan yang
digelar rutin sekali dalam sebulan itu, Amin Mahmud, salah seorang santri awal
Hidayatullah mengingatkan, tantangan terbesar umat Islam yang dalam hal ini
lebih-lebih persyarikatan Hidayatulah saat ini adalah menjaga komitmen persaudaraan
(ukhuwah) dan persatuan (ittihad).
Sebab diakui, dengan
perkembangan zaman yang sangat pesat di Indonesia bahkan dunia, potensi
keretakan ukhuwah Islamiyah itu bisa timbul nantinya.
“Meski demikian,
Hidayatullah boleh dikata belum besar dan belum klimaks, jadi terlalu dini
kalau ada istilah perpecahan di antara jamaah Hidayatullah,” ujar Amin selaku
murabbi (pembina) salah satu Halaqah Tarbiyah di kampus Hidayatullah Gunung
Tembak. “Tentu saja hal itu harus kita hindari sejauh mungkin,” imbuh Amin kembali.
Untuk diketahui, acara
Silaturahim Murabbi menghadirkan 16 orang Murabbi Halaqah Tarbiyah yang ada di
kampus Gunung Tembak. Setiap halaqah biasanya memiliki mutarabbi (binaan)
sekitar 15-20 orang warga pesantren.
Adapun sejumlah murabbi
tersebut tidak lain adalah para perintis Pesantren Hidayatullah yang sejak awal
nyantri bersama Abdullah Said rahimahullah, pendiri Hidayatullah.
Bahkan, tak jarang
Pimpinan Umum Hidayatullah, KH. Abdurrahman Muhammad juga turut urun rembuk dan
bersilaturahim bersama para kader senior tersebut. Secara bergilir, acara
silaturahim lalu berpindah dari satu rumah murabbi ke rumah yang lain.
Untuk bulan Desember
ini, silaturahim diadakan di rumah Ahmad Fitri, selaku Murabbi Halaqah ke-12.
Manandring Abdul Gani, salah seorang santri awal sejak tahun 1970-an lalu
bercerita, jika dirinya sebagai keponakan pernah diputus hubungan keluarga oleh
pamannya. Waktu itu paman Manandring tersebut murka karena ia lebih memilih
ikut Abdullah Said daripada menjalankan usaha bisnis pamannya.
Uniknya, kisah
Manandring, Abdullah Said tetap menyuruhnya untuk selalu menjaga silaturahim
dan akhlak mulia dengan pamannya tersebut. Seolah Said tak peduli dengan paman
Manandring yang lagi murka.
“Alhamdulillah, akhirnya
Allah membukakan hidayah dan maaf sehingga hubungan kekerabatan itu tetap
terjalin baik,” ujar Manandring mengenang.
Senada dengan itu,
Syamsu Rijal Palu, Murabbi Halaqah 9 berharap, agar setiap warga Hidayatullah
tetap menjaga kultur silaturahim tersebut. Sebab diyakini, tradisi yang dulu
digencarkan di awal perintisan Hidayatullah itu tetap ampuh mengatasi berbagai
persoalan sosial yang terjadi di kampus-kampus Hidayatullah. [Baca: Menjaga
Tradisi Hidayatullah]
“Paling minimal saling
menjenguk jika ada di antara anggota halaqah yang sakit atau sedang punya
masalah,” terang Syamsu Rijal memberi contoh.
Berdiri sejak tahun
1973, boleh dikata Hidayatullah mengalami pertumbuhan yang cukup pesat.
Terbukti, dengan usia yang baru menanjak 42 tahun ini, Hidayatullah telah
memiliki 36 Pengurus Wilayah (PW) di setiap wilayah Propinsi dan 130-an
Pengurus Daerah (PD) yang menyebar rata di sejumlah Kota/ Kabupaten di seluruh
pelosok nusantara.
Lebih jauh Abdul Qadir
Jailani juga menambahkan, umat Islam tak boleh lupa dengan sejarah Indonesia.
Dengan luas wilayah Indonesia yang begitu besar dan jumlah penduduk yang begitu
banyak, namun semua itu seolah tak punya arti ketika rakyat Indonesia tidak
mampu bersatu.
Akibatnya, selama 350
tahun lebih penjajah kafir yang notabene jumlahnya lebih sedikit mampu
memporak-porandakan umat Islam ketika itu.
“Salah satu faktornya
adalah lemahnya persaudaraan dan persatuan rakyat Indonesia sehingga mereka
mudah diadu domba oleh penjajah,” ungkap Abdul Qadir, Murabbi Halaqah 4 ini.
Abdul Qadir berharap,
komitmen merawat silaturahim dan ukhuwah ini benar-benar harus dijaga oleh
setiap kader Hidayatullah. Sebab umat Islam kini ibarat buih di lautan, seolah
tak punya kekuatan apa-apa lagi.
Abdul Qadir
mengimbuhkan, apa yang dikhawatirkan oleh Nabi Muhammad kini benar-benar
terjadi, bahwa masalah utama itu bukan pada persoalan kemiskinan umat Islam.
Tapi justru ketika pintu-pintu rizki itu mulai dimudahkan. Karena akan timbul
berbagai fitnah perebutan harta dan materi.
“Tak sedikit orang yang
fasih bicara tentang persatuan tapi hati-hati mereka sendiri tak bisa bersatu.
Mereka juga lantang berteriak akan persaudaraan tapi faktanya mereka sulit
bersaudara,” papar Ustadz yang pernah tugas berdakwah di sejumlah wilayah di
nusantara ini.
Dalam kesempatan
terpisah, kegiatan Silaturahim Murabbi Halaqah ini diakui mampu memberi spirit
penyemangat kepada kader-kader Hidayatullah. Menurut Abdul Ghofar, salah
seorang warga kampus Gunung Tembak, hal tersebut patut mejadi syiar yang ditiru
oleh setiap kader Hidayatullah.
“Dengan silaturahim,
berbagai persoalan bisa diatasi atas izin Allah. Sebab di sana ada upaya saling
menaut hati dan fikiran serta membersihkan hati dan sengketa batin,” ujar Abdul
Ghofar.
“Ini adalah teladan yang
sangat baik. Jika para sesepuh dan orang tua saja masih rajin ikut halaqah dan
silaturahim, maka bagaimana dengan para pemuda generasi pelanjut. Harusnya jauh
lebih intens,” ucap Abdul Ghofar memungkasi. (Masykur)



0 komentar:
Posting Komentar